KETAN

Ketan bagi masyarakat Batu tempo dulu adalah teman jagongan di warung warung kopi sebagai salah satu jajanan sandingan; selain makanan ringan seperti tempe, tahu berontak, menjes, ketela goreng, dan lain sebagainya.

Ketika Batu masih sebuah daerah pedesaan, dan masih sangat kental dengan nuansa pedesaan. Budhe (Bibi) saya dulunya memiliki kedai ketan yang setiap harinya selalu ramai oleh pengunjung. Kedai tersebut buka mulai Subuh hingga sekitar pukul 08.00. Selain sebagai relasi sosial masyarakat pedesaan, kedai ketan tempat Budhe saya bisa jadi sebagai tempat alternatif pengganti sarapan. Mulai dari petani yang hendak pergi ke sawah, pedagang yang hendak atau dari pasar, tukang ojek, dan lain sebagainya.

Ketika kini Batu tumbuh menjadi sebuah kota, dan menjelma sebagai salah satu ikon pariwisata di Indonesia, ketan pun masih menjadi salah satu kuliner yang dicari oleh wisatawan. Penjual ketan semakin tersebar di kota Batu, meski pada dasarnya di Batu sendiri anda tidak akan menemukan petani yang menanam padi-padian sejenis ketan. Masyarakat di Batu pada umumnya mengimpor ketan dari kota tetangga, Blitar.

Seiring berkembangnya peradaban, berbagai inovasi dalam makanan ketan pun juga mulai bervariasi. Sebut saja ketan dengan fla kental manis ditambahkan durian, yang dikenal sebagai ketan durian. Atau ketan ditambahkan taburan keju dan coklat. Akan tetapi ketan tradisional pun masih menjadi favorit, ketan dengan taburan bubuk kedelai bumbu, ditambahkan kelapa dan kicir (gula jawa yang dicairkan).

Leave a Reply