WAE REBO, DESA DI ATAS AWAN

Terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut, di Kabupaten Mangarai Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah Desa yang sangat misterius. Betapa tidak, untuk mencapai Wae Rebo diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Dari Desa Dintor ke Desa Denge, anda harus menempuh jarak sekitar 6 km dengan kendaraan roda dua bermotor. Setelah itu perjalanan dari Desa Denge ke Wae Rebo dilanjutkan dengan pendakian yang menyita waktu lebih kurang sekitar 3 jam perjalanan.  Anda akan menyusuri sebuah daerah terpencil yang dikelilingi oleh hutan lebat, dan masih belum terjamah. Bahkan anda harus menyeberangi sungai dan melintasi bibir jurang untuk mencapai Wae Rebo.

Meski letaknya berada di pelosok pedalaman Nusa Tenggara Timur, penduduk Desa Wae Rebo meyakini bahwa mereka adalah keturunan Minangkabau, Sumatera. Diyakini Nenek Moyang mereka bernama Empu Maro yang terusir dari tanah leluhurnya.

Rumah adat di Desa Wae Rebo disebut sebagai Mbaru Niang (rumah tinggi dan bulat). Memiliki bentuk yang cukup unik, berbentuk lumbung kerucut dan hanya memiliki 7 buah rumah utama saja. Setiap rumah dihuni oleh 6 hingga 8 keluarga saja. Tujuh buah bangunan Mbaru Niang merupakan cerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncah Gunung di sekeliling kampung Wae Rebo, yang dipercaya sebagai pelindung kemakmuran kampung. Tujuh bangunan tersebut merupakan warisan para leluhur yang dijaga secara turun temurun. Rumah utamanya disebut sebagai Niang Gendang, dan bangunannya lebih besar dibandingkan keenam rumah lainnya.

Pada bulan agustus 2012, Desa Wae Rebo dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Bahkan pada 23 maret 2013 melalui Mr. Masanori Nagaoka selaku Head of Culture unit of UNESCO, Wae Rebo kembali mendapatkan penghargaan tertinggi pada dikategori konservasi warisan budaya UNESCO Asia Pasifik dan menjadi salah satu kandidat peraih penghargaan Aga Khan untuk arsitektur.

Kunjungan terbaik ke Wae Rebo ada di bulan November. Bulan 11 bagi masyarakat Wae Rebo menyelenggarakan upacara adat Penti, sebagai perwujudan rasa syukur atas panen setahun yang lalu, serta sebagai permohonan perlindungan dan keharmonisan kehidupan untuk kehidupan yang akan datang.

Meskipun jauh dari peradaban, penduduk Wae Rebo cukup ramah. Sebelum pulang anda dapat juga membeli kain tenun khas Wae Rebo yang merupakan hasil kerajinan tangan mereka. Dapat pula anda membeli hasil-hasil pertanian seperti kopi, vanili dan lain lain.

Leave a Reply